Jumat, 29 Mei 2009

Tantrum

“maaf Re tidak boleh!!!!!!!” teriak sang guru dengan spontan ketika Re, salah satu anak muridnya berkata “ mama setan”….”mama setan”…dan menuliskannya di papan tulis.



Mendengar teriak sang guru, Re pun bukannya berhenti berkata tapi kemudian anak itu malah berteriak seperti orang mengerang “haaaaah”, anak itu spontan menarik gurunya sekuat tenaga sampai hampir terjatuh. Kemudian dia membalikkan semua meja yang ada di dalam kelas sambil berteriak – teriak….


Yah Re tantrum…., seorang anak murid autisku…badannya tinggi besar, tingginya sudah sama denganku tapi badannya lebih besar dari badanku, kulitnya sangat halus dan putih, umurnya sudah delapan tahun, Dia bisa di kategorikan anak super jenius, sudah bisa membaca dan menulis dengan lancar, serta mempunyai daya tangkap yang tinggi. Dia masih berada di Taman Kanak – kanak karena masih memerlukan terapi perilaku walaupun dari segi akademis dia termasuk anak jenius…


Guru kelasnya terus memanggilnya “Re”…. Maaf” itu adalah kalimat larangan yang boleh di pakai di sekolah kami waktu itu… tapi Re terus mengamuk melemparkan benda – benda yang ada di sekitarnya, teman –temannya ketakutan…


Aku mendekatinya dan berusaha untuk meraihnya….sekuat tenaga aku memeluknya…aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk memeluknya karena tubuhnya lebih besar dariku sampai akhirnya dia tenang… 


Perlahan aku melepaskan pelukanku dan memegang kedua pipinya, aku menatap matanya dan tersenyum.. aku hanya berkata “Bunda sayang sama Re”……”mau belajar sama bunda asy di ruang komputer?” tanyaku kepadanya pelan..
“mau” jawabnya sambil menarik tanganku menuju ruang komputer.


Aku menyalakan komputer dan memutarkan musik klasik supaya dia tenang. Dia duduk dan tersenyum lucu… Re sebenarnya adalah anak yang sangat menyenangkan…aku mulai mengajaknya bicara…waktu itu kami sedang belajar tentang tema keluarga..



Aku mulai bertanya kepadanya..” bunda boleh tahu tidak, ada siapa saja di rumah Re?” “ada ayah, ada mama, ada abang, ada mbak dan Re” jawabnya polos.
“Re bisa tulis, Re sayang ayah” pintaku kepadanya. Kemudian dia pun menuliskan apa yang aku katakana. “lalu Re sayang siapa lagi?” tanyaku.
Kemudian dia menulis sambil berkata “ Re sayang abang”. Aku hanya tersenyum untuk memberikan apresiasiku kepadanya. “trus mama?” kataku setengah bertanya.

Tapi diluar dugaanku dia tidak menulis Re sayang mama seperti yang dia lakukan terhadap ayah dan kakaknya, tetapi dia menulis “mama setan” nafasku seperti terhenti, aku tidak tahu bagaimana sedihnya mamanya kalau tahu ini. Aku hanya diam dan menggelengkan kepalaku tanda tidak setuju. Aku mengambil penghapus dan menghapusnya. “ Re....bisa tolong bunda, buat yang lebih bagus?” kataku padanya…

Tapi dia mengulangi hal yang sama. Entah apa yang terjadi dengan anak ini di rumah, aku tidak berani mengambil kesimpulan.


Aku mengambil selembar kertas dan menggambar seorang wanita hamil.
 Lalu aku menunjukkan gambar itu pada Re…” Re tahu ini siapa?” tanyaku
Dia hanya melihat sekilas, “ Re… lihat, ini mama. Re tahu? Dulu Re ada di dalam perut mama, dulu Re di bawa kemanapun mama pergi, lalu setelah Re lahir, mama kasih susu untuk Re, mama kasih makan, mama mandiin Re…..sampai Re besar seperti sekarang bisa bermain sama teman – teman….. mama baik tidak Re?” kataku menjelaskan kepadanya.

Dia hanya mengangguk, “nah sekarang Re sayang kan sama mama?”tanyaku kepadanya sekali lagi. “sayaaang” jawabnya dengan suara besar. “ sekarang bisa tulis, Re sayang mama?” tanyaku, kemudian dia menulisnya…”Subhanallah Re pintar Give me five!!!” pujiku kepadanya sambil mengajaknya tos (give me five)….



“Re ingat apa yang sudah Re lakukan tadi di kelas?” tanyaku. “iya” dia hanya menjawab singkat, Sekarang kita kembali kekelas dan minta maaf sama bunda Sita dan teman – teman Re ya….”
Dia kemudian bangun dari duduknya dan bergegas menuju kekelas. “katakan apa sama bunda Sita?” Tanya ku di perjalanan menuju kelas. “ Re sayang mama, Re sayang Bunda”. “Re sayang mama, Re sayang bunda” aku ikut mengulanginya…


Sampai di kelas ku biarkan Re mengetuk pintu dan mengucap salam, dia masuk kekelas dan berkata persis di hadapan gurunya “ Bunda Re Minta maaf, Re sayang mama, Re Sayang bunda”

Aku tersenyum dan keluar kelas, aku menarik nafas dalam – dalam karena air mataku hampir saja menetes melihatnya melakukan itu…..

Aku baru sadar, kalau ternyata untuk menjadi seorang guru tidak hanya butuh kemampuan intelektual yang tinggi, tapi dibutuhkan sorot mata bersahabat, tutur kata dan sentuhan  lembut, senyum yang tulus, hati yang ikhlas dan jiwa yang lapang…

Mudahkah itu?

 

Rabu, 13 Mei 2009

Ketika Haikal Mulai Bicara

“Halo haikal” assalamu ‘alaikum?
Sapaku kepada haikal suatu pagi. “walaikum salam” jawabnya sambil melihat sekelilingnya, matanya masih kemana – mana, tidak fokus pada satu hal yang dilihatnya.
Aku tersenyum dan mengusap rambutnya. “haikal apa kabar?” aku melanjutkan pertanyaannku.
“ baik” jawabnya
“ haikal sedang apa?”
“Bermain”
“wah ini apa ya?”tanyaku kepadanya sambil menunjukkan sebuah buku.

"Ini buku” jawabnya singkat, sambil naik ke sebuah ayunan…..


Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana bahagia dan bersyukurnya aku saat itu.
Setelah hampir dua tahun aku mengajaknya bicara, lebih tepatnya aku bicara sendiri kepadanya. Menemaninya bermain dan memperhatikannya…..
Akhirnya hari itu haikal mulai mau berbicara seperti anak – anak lain walaupun kadang – kadang masih membeo.
Masih teringat jelas dalam ingatanku ketika pertama kali aku bertemu dengannya;

15 agustus 2005. aku memasuki gedung sekolah Taman Kanak – Kanak berwarna orange di daerah depok. Waktu itu aku baru semester tiga awal. Belum ada yang kudapat dari bangku kuliah sebagai bekal untuk mengajar. Dan pekerjaan yang aku ambil ini agak melenceng dari jurusanku.


Autisme……..
Yah aku mengawali karirku di dunia pendidikan sebagai shadow teacher untuk anak – anak autisme. Aku buta dan tidak punya keahlian tentang hal ini. Tapi aku yakin kalau aku bisa. Awalnya aku menerima tawaran ini karena aku ingin mencari “tombo ati”. Kata opik obat hati ada lima perkara dan salah satunya adalah berkumpul dengan orang – orang sholeh. Intinya aku ingin belajar dari mereka untuk hidupku yang lebih baik dan memperbaiki hubunganku dengan Tuhan. Dan sekolah ini adalah sekolah Islam terpadu. Awalnya aku merasa tidak pantas masuk ke sekolah itu, tapi teman – teman disana sangat bersahabat dan membimbingku dengan tulus.

Kulitnya putih bersih dan ganteng, dia kelihatan sangat lucu dengan rambut brokolinya.. Ibunya memberiku penjelasan sebentar tentang kondisi anaknya. Kupersembahkan senyuman tulus dan termanisku saat pertama kali aku bertemu dengannya. Sekilas tidak ada masalah dengan anak ini.


Aku tersenyum dan menyapanya “assalamu ‘alaikum?”
Tapi tak ada respond apapun dan bahkan dia tidak melihatku. Dia asyik memainkan jarinya dan bersenandung tidak jelas.
“walaikum salam bunda” ibunya menjawab memberi contoh. Tapi dia tetap tidak bergeming.
Jujur aku bingung harus bagaimana, karena aku belum tahu banyak tentang anak special needs seperti haikal.

Aku menjabat tangannya dan mengusap pundaknya berusaha menemukan tatap matanya. ”halo haikal, ini bunda Asy”. Kataku padanya memperkenalkan diri, walaupun dia mungkin menganggapku tak ada.


Setelah perkenalan singkat itu ibunya pulang, dan aku mengajak haikal untuk masuk kelas. Aku belum melakukan apa – apa, aku hanya memperhatikannya… dia duduk diantara lego – lego kemudian mengambilnya satu demi satu, memainkanya seperti pesawat terbang, sambil berceloteh tidak jelas, kemudian memindahkan lego – lego itu satu persatu kesebelah kiri tubuhnya , sampai semua lego – lego itu habis, kemudian dia berputar dan melakukan hal yang sama berulang – ulang.


Aku duduk di hadapannya dan berusaha mengalihkan perhatiaanya, “haikal, ini lego” lego….lego….kataku berulang - ulang.
Aku tidak memaksanya untuk meniru apa yang aku katakan, aku yakin dia mendengarku, walaupun dia asyik dengan lego – lego itu dan terus memindahkannya.
Aku melemparkan salah satu lego ke pojok ruangan, kemudian aku katakan padanya, “ ambil “…..haikal tolong ambil…..ambil…..ambil…..”kataku perlahan. Haikal tetap tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya dan dia terus memindahkan lego – lego itu dan terus berputar. Aku memegang tanganya dan mengajaknya kepojok ruangan untuk mengambil lego yang tadi aku lemparkan. “ lego ini…..” kataku “Tolong ambil” matanya memandang sekeliling ruangan dan tidak menatapku sedikitpun, aku memberikan prompt untuk mengambil lego itu.

Walaupun matanya tidak melihat kearah lego itu sama sekali, tapi dia menurut ketika aku menarik tangannya untuk menagamil lego itu, kemudian dia mengambilnya, “nah…. Ambil….” “Haikal hebat” kataku memujinya. “Oke…. Bunda beri hadiah…..” lalu aku menciumnya…dan bertepuk tangan untuknya. Dia hanya tersenyum sekilas kemudian kembali kearah legonya…


Aku melemparkan salah satu lego lagi ke pojok ruangan kemudian melakukan hal yang sama berulang kali, sampai waktu istirahat. Aku mengajaknya keluar untuk bermain, begitu dia lepas dari genggaman tanganku, dia langsung berlari ke kelas atas memasuki setiap ruangan dan berputar di kolong – kolong meja, kemudian dia turun lagi dan kembali naik kekelas atas, aku sempat kewalahan mengikutinya.


Seorang guru membantuku untuk menangkapnya. Kemudian aku menuntunya untuk menuruni tangga. “ayo kita turun” ajaku sambil menuntunnya, “turun”…..”turun’’…..turun….ucapku selagi aku dan haikal menuruni tangga, aku terus bicara padanya, aku hanya yakin kalau dia akan mendengarku dan suatu saat akan mau berbicara seperti anak – anak yang lain.

Aku mengajaknya untuk duduk di sebuah ayunan kemudian memegang kedua tangannya, aku menarik tangannya supaya dia memegang kedua pipiku, dan akupun melakukan hal yang sama memegang kedua pipinya untuk mendapat “eye contact” dengannya. “ini pipi”……ini pipi…. pipi….kataku berulang – ulang.


Hari – hari itu rasanya terbayar sudah pagi ini….
hari dimana Haikal mulai bicara…..

Berkali – kali aku mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah…, dan aku merasa harus berterimakasih kepada haikal…


Dia sudah membuatku untuk belajar sabar
Dia sudah membuatku untuk belajar menghadapi tantangan dan rintangan hidup
Dia sudah membuatku belajar untuk tidak mudah menyerah dan berputus asa….

Dia sudah membuatku belajar bahwa dalam hidup ini diperlukan suatu proses yang panjang untuk mencapai sesuatu…..


Ingin rasanya aku melompat, berjingkrak – jingkrak tepatnya dan memeluk Ibunya untuk mengungkapkan kebahagiaanku….
Tapi tentu saja itu tidak aku lakukan…. Karena nanti dikira gantian aku yang autis….ha ha ha….

Senin, 13 April 2009

Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu

Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Pffhh.sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan.Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Al-Hadid ;22-23)

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh.Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita,bukanya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah. harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkanya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori.Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah :

".. Boleh jadi kalian membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak!Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

Thanks a lot for Abu Najla, it gives me a new spirit.....

6 PERTANYAAN

Suatu hari seorang guru berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau mengajukan 6 pertanyaan

Pertama....
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini??" murid- muridnya ada yang menjawab "orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya". Sang guru menjelaskan semua jawaban itu benar.... tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian" sebab kematian adalah PASTI adanya......


Lalu sang guru meneruskan pertanyaan kedua
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini .....?" murid-muridnya ada yang menjawab.... "negara Cina", "bulan", "matahari" dan "bintang-bintang"...... lalu sang guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar.... Tapi yang paling benar adalah "Masa Lalu".... Siapapun kita.... bagaimanapun kita.... dan betapa kayanya kita.... tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu.... Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan datang.....


Sang guru meneruskan dengan pertanyaan ketiga.....
"Apa yang paling besar di dunia ini ....??" murid-muridnya ada yang menjawab "Gunung", "Bumi", dan "Matahari"..... semua jawaban itu benar kata sang guru.... Tapi yang paling besar yang ada didunia ini adalah NAFSU".... Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya...Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi..... Karena itu kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)....


Pertanyaan keempat adalah.....
"Apa yang paling berat didunia ini....??" diantara murid-muridnya ada yang menjawab....."baja", "besi", dan "gajah".....semua jawaban hampir benar ....." kata sang guru "tapi yang paling berat adalah memegang amanah"........


Pertanyaan kelima adalah.....
"Apa yang paling ringan di dunia ini......??" Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu" dan "daun-daunan"..... "
"Semua itu benar......", kata sang guru tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan ibadah.."


Lalu pertanyaan keenam adalah......
"Apakah yang paling tajam di dunia ini....??" murid-muridnya menjawab dengan serentak "PEDANG.....!!!" "(hampir) benar kata sang guru tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia" karena melalui lidah manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan melukai perasaan saudaranya sendiri.....


>Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN.....
>Senantiasa belajar dari MASA LALU.... dan tidak memperturutkan HAWA NAFSU??
>Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun....... dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH... serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita......??
Sahabat mari kita sama-sama renungkan.......




taken from Manajemen qolbu

Senin, 30 Maret 2009

Sebuah Undangan dan Senyuman Termanis

Gadis kecil itu tersenyum, manis sekali. Seakan dia ingin menunjukkan pada dunia “inilah senyum termanisku”. Aku hanya diam disampingnya. Aku tidak tahu apa yang sedang ada di pikirannya.

Bahagiakah? Sedihkah?Sakit hatikah? Marahkah?

Aku tak bisa menebaknya. Dia hanya diam dalam senyumnya, memandangi layar computer dimana sebuah undangan pernikahan dengan foto kedua mempelai yang baru saja dia buka dari e – mailnya.

Oh mungkin dia sedang bahagia melihat foto pernikahan itu karena sahabatnya bahagia……..
Gadis kecil itu tetap tersenyum, tapi aku bisa mendengar hembusan nafasnya yang berat.
Dia menoleh kearahku. Masih tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya, dan menarik nafas dalam – dalam.
Aku masih tak mengerti. Aku hanya diam menunggunya.
Jari jemarinya mulai mengetik kalimat demi kalimat di komputernya:

Berduka Dalam Tenang
Duka ini,
adalah duka yang tenang
Sepenuh kesungguhan
Aku menutup sepenggal episode kebersamaan
Sepenuh kesadaran
Aku bangun dari sebuah mimpi kehidupan
Sepenuh Jiwa
Aku menguburnya dalam kenangan masa silam
Sepenuh keyakinan aku mengantarnya pergi
Dari jalan panjang hidupku ke depan

Aku berduka, dengan duka yang tenang:
Atas keyakinan,
Kehilangan ini adalah wajar adanya
Atas kepastian,
Proses hidup memang demikian jalannya
Atas kepercayaan, esok kan datang yang lainnya
Aku berduka dalam tenang

Gadis itu tak sedikitpun berhenti tersenyum, aku sempat mendengar gumam lirih dari bibirnya;
“ lihatlah, aku tersenyum sebagaimana engkau tersenyum, dan aku akan selalu tersenyum untuk kebahagiaanmu dan aku bahagia melihatmu tersenyum bahagia”.

Aku tidak tahu kepada siapa gadis itu bicara. Nyaris tak terdengar.
Dan aku baru sadar, betapa dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mempersembahkan senyum termanisnya untuk orang yang sangat dia cintai. Meskipun dia kehilangan.

Tanpa air mata, tanpa emosi, tanpa keluh kesah, dia masih tetap tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya. Kemudian berlari menyebrang jalan. Tak ada yang tahu kalau hatinya sedang terluka.

Aku menatapnya bangga.

“cinta adalah ketika kita bisa membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan caranya sendiri”

poem taken from: wanita lajang tersenyumlah pada dunia (azi)


Minggu, 29 Maret 2009

Ramalan

Di suatu sore aku jalan – jalan ke toko buku bersama seorang teman. Bukan untuk membeli tapi untuk sekedar baca – baca. Seperti biasa aku mencari buku tentang anak – anak. Aku ambil satu dan mulai membaca di tempat duduk yang tersedia. Lalu temanku mengambil sebuah buku juga. Aku tidak menghiraukannya. Kemudian kami membaca buku masing –masing.

Beberapa saat kemudian temenku mencolekku sambil berkata, “ eh bu,baca ini deh…”katanya sambil menyodorkan bukunya sambil tertawa kecil.
Aku sempat terkejut karena dia ternyata membaca buku tentang ramalan hidup melalui tanggal lahir,garis tangan, bentuk wajah sampai letak tahi lalat.

“apaan sih, percaya ama ramalan?” jawabku.
“tapi ini sesuai ama yang udah aku alami lho, coba baca kalau tanggal lahir kamu seperti apa, sesuai ga?”

Aku mulai tertarik juga, hmmm iseng aja sih bukan untuk percaya.
Tapi kata buku itu, orang yang lahir tanggal 18 januari itu hidupnya dinamis dan penuh perubahan dalam segala hal. Dia akan beralih dari satu profesi ke profesi lainnya. Mempunyai karakter yang kuat dan ambisius, Setia , mandiri dan sabar. Dia akan meraih kesuksesan karena ketekunannya. Pekerjaan yang cocok adalah sebagai enterprenour. Tapi dalam urusan cinta kurang beruntung. “hiks …hiks….hiks…” aku menutup mulutku. Karena aku ingin tertawa keras2 rasanya.

“sesuai kan bu ama dirimu?” Tanya temanku lagi.
“banget……ah itu sih kebetulan aja pas, tapi emang iya ya….aku udah ganti kerjaan berapa kali ya?” kataku.

Mulai dari jadi governess, staf di sebuah butik, jadi buruh pabrik dan sampai akhirnya aku menemukan pekerjaan yang membuatku senang,aku selalu berada diantara anak – anak kecil yang hebat, yang membuatku bersemangat bangun pagi untuk melihat senyum mereka. “Mengajar”, (belum pantas disebut guru) karena kalau guru harus bisa di gugu dan di tiru katanya……he…he…he…aku belum bisa menjadi seperti filosofi itu. Dan sekarang aku memulai pekerjaan baru lagi, mengelola sebuah kursus bahasa Inggris.
Yah penuh perubahan sih memang. Tapi kalau untuk ramalan yang terakhir itu aku tetap berprasangka baik pada Allah. Bukan tidak beruntung, tapi Allah pasti sedang memilihkan yang terbaik untukku.

Dan aku bersyukur, Tuhan memberiku kesempatan untuk selalu belajar memperbaiki diri, memberiku kekuatan untuk bangkit dari setiap kegagalan dan mempertemukan aku dengan orang – orang hebat. Aku mendapatkan asset paling berharga dalam hidupku. Kedua orang tua yang selalu mendukung dan mempercayaiku sepenuhnya, teman – teman yang baik/sholehah yang membimbingku untuk lebih baik. Pekerjaan yang menyenangkan……..

Bagiku kebahagiaan itu bukan tergantung pada siapa diri kita dan apa yang kita miliki, tapi kebahagiaan itu semata – mata tergantung pada apa yang kita pikirkan. Dan kesuksesan dalam hidup itu bukan ketika kita memiliki segalanya, tapi ketika kita bisa bermanfaat untuk orang lain dan membuat mereka bahagia.

I've come to believe that all my past failure and frustrations were actually laying the foundation for the understandings that have created the new level of living I now enjoy.



Jumat, 27 Maret 2009

Renungan

Aku minta pada Allah setangkai bunga indah
Dia memberiku kaktus berduri

Aku minta pada Allah hewan mungil nan cantik
Dia beri aku ulat berbulu

Aku sempat sedih, kecewa dan protes
betapa tidak adilnya ini
Namun kemudian....

Kaktus itu berbunga
sangat indah sekali dan ulatpun tumbuh
dan berubah menjadi kupu - kupu yang teramat cantik
itulah jalan Allah
Indah pada waktunya

Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan
tetapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan

walau terkadang....
sedih, kecewa dan terluka ...
tapi jauh diatas segalanya
Dia sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita
Allahuakbar......Allahuakbar....Allahuakbar

Masihkah kita mengharap pada yang lain?
Semoga kita termasuk dalam golongan orang - orang yang pandai bersyukur atas karunia dari Allah SWT. Amiiin
(sms dari teman ketika aku sedih)