Senin, 30 Maret 2009

Sebuah Undangan dan Senyuman Termanis

Gadis kecil itu tersenyum, manis sekali. Seakan dia ingin menunjukkan pada dunia “inilah senyum termanisku”. Aku hanya diam disampingnya. Aku tidak tahu apa yang sedang ada di pikirannya.

Bahagiakah? Sedihkah?Sakit hatikah? Marahkah?

Aku tak bisa menebaknya. Dia hanya diam dalam senyumnya, memandangi layar computer dimana sebuah undangan pernikahan dengan foto kedua mempelai yang baru saja dia buka dari e – mailnya.

Oh mungkin dia sedang bahagia melihat foto pernikahan itu karena sahabatnya bahagia……..
Gadis kecil itu tetap tersenyum, tapi aku bisa mendengar hembusan nafasnya yang berat.
Dia menoleh kearahku. Masih tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya, dan menarik nafas dalam – dalam.
Aku masih tak mengerti. Aku hanya diam menunggunya.
Jari jemarinya mulai mengetik kalimat demi kalimat di komputernya:

Berduka Dalam Tenang
Duka ini,
adalah duka yang tenang
Sepenuh kesungguhan
Aku menutup sepenggal episode kebersamaan
Sepenuh kesadaran
Aku bangun dari sebuah mimpi kehidupan
Sepenuh Jiwa
Aku menguburnya dalam kenangan masa silam
Sepenuh keyakinan aku mengantarnya pergi
Dari jalan panjang hidupku ke depan

Aku berduka, dengan duka yang tenang:
Atas keyakinan,
Kehilangan ini adalah wajar adanya
Atas kepastian,
Proses hidup memang demikian jalannya
Atas kepercayaan, esok kan datang yang lainnya
Aku berduka dalam tenang

Gadis itu tak sedikitpun berhenti tersenyum, aku sempat mendengar gumam lirih dari bibirnya;
“ lihatlah, aku tersenyum sebagaimana engkau tersenyum, dan aku akan selalu tersenyum untuk kebahagiaanmu dan aku bahagia melihatmu tersenyum bahagia”.

Aku tidak tahu kepada siapa gadis itu bicara. Nyaris tak terdengar.
Dan aku baru sadar, betapa dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mempersembahkan senyum termanisnya untuk orang yang sangat dia cintai. Meskipun dia kehilangan.

Tanpa air mata, tanpa emosi, tanpa keluh kesah, dia masih tetap tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya. Kemudian berlari menyebrang jalan. Tak ada yang tahu kalau hatinya sedang terluka.

Aku menatapnya bangga.

“cinta adalah ketika kita bisa membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan caranya sendiri”

poem taken from: wanita lajang tersenyumlah pada dunia (azi)


Minggu, 29 Maret 2009

Ramalan

Di suatu sore aku jalan – jalan ke toko buku bersama seorang teman. Bukan untuk membeli tapi untuk sekedar baca – baca. Seperti biasa aku mencari buku tentang anak – anak. Aku ambil satu dan mulai membaca di tempat duduk yang tersedia. Lalu temanku mengambil sebuah buku juga. Aku tidak menghiraukannya. Kemudian kami membaca buku masing –masing.

Beberapa saat kemudian temenku mencolekku sambil berkata, “ eh bu,baca ini deh…”katanya sambil menyodorkan bukunya sambil tertawa kecil.
Aku sempat terkejut karena dia ternyata membaca buku tentang ramalan hidup melalui tanggal lahir,garis tangan, bentuk wajah sampai letak tahi lalat.

“apaan sih, percaya ama ramalan?” jawabku.
“tapi ini sesuai ama yang udah aku alami lho, coba baca kalau tanggal lahir kamu seperti apa, sesuai ga?”

Aku mulai tertarik juga, hmmm iseng aja sih bukan untuk percaya.
Tapi kata buku itu, orang yang lahir tanggal 18 januari itu hidupnya dinamis dan penuh perubahan dalam segala hal. Dia akan beralih dari satu profesi ke profesi lainnya. Mempunyai karakter yang kuat dan ambisius, Setia , mandiri dan sabar. Dia akan meraih kesuksesan karena ketekunannya. Pekerjaan yang cocok adalah sebagai enterprenour. Tapi dalam urusan cinta kurang beruntung. “hiks …hiks….hiks…” aku menutup mulutku. Karena aku ingin tertawa keras2 rasanya.

“sesuai kan bu ama dirimu?” Tanya temanku lagi.
“banget……ah itu sih kebetulan aja pas, tapi emang iya ya….aku udah ganti kerjaan berapa kali ya?” kataku.

Mulai dari jadi governess, staf di sebuah butik, jadi buruh pabrik dan sampai akhirnya aku menemukan pekerjaan yang membuatku senang,aku selalu berada diantara anak – anak kecil yang hebat, yang membuatku bersemangat bangun pagi untuk melihat senyum mereka. “Mengajar”, (belum pantas disebut guru) karena kalau guru harus bisa di gugu dan di tiru katanya……he…he…he…aku belum bisa menjadi seperti filosofi itu. Dan sekarang aku memulai pekerjaan baru lagi, mengelola sebuah kursus bahasa Inggris.
Yah penuh perubahan sih memang. Tapi kalau untuk ramalan yang terakhir itu aku tetap berprasangka baik pada Allah. Bukan tidak beruntung, tapi Allah pasti sedang memilihkan yang terbaik untukku.

Dan aku bersyukur, Tuhan memberiku kesempatan untuk selalu belajar memperbaiki diri, memberiku kekuatan untuk bangkit dari setiap kegagalan dan mempertemukan aku dengan orang – orang hebat. Aku mendapatkan asset paling berharga dalam hidupku. Kedua orang tua yang selalu mendukung dan mempercayaiku sepenuhnya, teman – teman yang baik/sholehah yang membimbingku untuk lebih baik. Pekerjaan yang menyenangkan……..

Bagiku kebahagiaan itu bukan tergantung pada siapa diri kita dan apa yang kita miliki, tapi kebahagiaan itu semata – mata tergantung pada apa yang kita pikirkan. Dan kesuksesan dalam hidup itu bukan ketika kita memiliki segalanya, tapi ketika kita bisa bermanfaat untuk orang lain dan membuat mereka bahagia.

I've come to believe that all my past failure and frustrations were actually laying the foundation for the understandings that have created the new level of living I now enjoy.



Jumat, 27 Maret 2009

Renungan

Aku minta pada Allah setangkai bunga indah
Dia memberiku kaktus berduri

Aku minta pada Allah hewan mungil nan cantik
Dia beri aku ulat berbulu

Aku sempat sedih, kecewa dan protes
betapa tidak adilnya ini
Namun kemudian....

Kaktus itu berbunga
sangat indah sekali dan ulatpun tumbuh
dan berubah menjadi kupu - kupu yang teramat cantik
itulah jalan Allah
Indah pada waktunya

Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan
tetapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan

walau terkadang....
sedih, kecewa dan terluka ...
tapi jauh diatas segalanya
Dia sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita
Allahuakbar......Allahuakbar....Allahuakbar

Masihkah kita mengharap pada yang lain?
Semoga kita termasuk dalam golongan orang - orang yang pandai bersyukur atas karunia dari Allah SWT. Amiiin
(sms dari teman ketika aku sedih)